//
you're reading...
ASPIRASI

Adakah Perubahan Pasca Suramadu?

Suramadu sebuah jembatan sepanjang 5,4 kilometer yang menghubungkan surabaya dan madura, dan menelan anggaran hingga Rp 5 triliun itu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tanggal 10 July 2009.

Suramadu dari awal digagas sudah mengalami banyak tantangan, bagaimana  BASRA (Badan Silaturrahmi Ulama Madura) berusaha memastikan bahwa kehadiran jembatan dan industrialisasi di madura benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan terutama bagi masyarakat madura. karena saat itu tim BASRA yang dibawa ke batam untuk studi banding menemukan fakta bahwa industrialisasi di batam ternyata berdampak pada tersingkirnya masyarakat lokal batam. hal inilah yang menyebabkan saat itu rencana pembangunan jembatan yang digagas sejak tahun 90-an akhirnya molor berkepanjangan.

Saat tulisan ini dibuat terhitung 4 tahun sudah jembatan suramadu digunakan. ada banyak pertanyaan yang sering terlintas dan juga sering diajukan oleh banyak orang. “kenapa wajah daerah kaki suramadu tahun 2013  masih sama dengan wajah  tahun 2009”?

Industrialisasi yang diimpikan di madura pasca suramadu sampai saat ini juga belum menampakkan perkembangan berarti. Dari kacamata awam, ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap melambatnya realisasi industrialisasi madura dan pengembangan kawasan sekitar suramadu.

Pertama: Keseriusan pemerintah patut dipertanyakan. karena sampai saat ini instansi pemerintah yang terkait seperti Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS), pemerintah daerah sekitar, dan pemprov Jawa Timur tidak mampu melakukan sinergi untuk menggerakan pengembangan suramadu, bahkan yang terjadi malah konflik yang berkepanjangan antar instansi ini terkait perebutan hak untuk pengelolaan.

untuk lebih lengkap bisa baca Perpres No.27 tahun 2008 tentang pembentukan BPWS dan perpres ini sangat perlu dikaji ulang, jika sampai saat ini tidak mampu menjalankan tugasnya sesuai yang diamanahkan

Kedua: Penentuan tarif suramadu sangat dipengaruhi oleh kepentingan pengusaha terutama pengusaha penyebrangan ujung-kamal. bangaimana madura bisa dilirik pengusaha untuk membangun industri jika distribusi barang melewati suramadu menelan biaya sebesar 60 ribu rupiah (pulang pergi). bisa dibayangkan misalnya mereka membutuhkan 10 armada angkutan dan tiap armada harus pulang pergi sebanyak 5 kali tiap hari, maka butuh biaya 10 * 5 * 60.000 = 3.000.000 (3 juta rupiah) tiap hari atau 3 juta * 20 hari kerja = 60 Juta tiap bulan. biaya yang sangat tinggi di dilihat dari kacamata industri. maka sangat wajar sekali jika sampai saat ini tidak ada pengusaha dan investor yang tertarik untuk membuka usahanya di madura.

Ketiga: Pemerintah daerah penyangga suramadu tidak berusaha menarik investor masuk dengan memudahkan berbagai perizinan usaha dan menyediaan lahan yang mudah bagi investor. yang terjadi malah sebaliknya pemerintah daerah penyangga malah berlomba-lomba untuk mendapatkan keuntungan sesaat dengan jalan mempersulit birokrasi perizinan dan mempersulit investor dalam mendapatkan lahan. bertambahlah point yang menyebabkan investor tidak tertarik sama sekali untuk menanamkan modalnya di madura pasca suramadu.

perubahan pasca suramadu akan terjadi jika telah terjadi perubahan yang positif terkait 3 faktor tersebut.

semoga hidayah dan cahaya Allah tercurah bagi pemimpin-pemimpin kita agar mampu menjalankan amanah dengan lebih baik

* gambar merupakan prangko yang dikeluarkan saat peresmian jembatan suramadu

Iklan

About fsolihin

Lahir di desa kecil pintu gerbang Madura mengalirkan semangat kuat untuk berusaha maju, berbekal sedikit pengalaman dirantau, memberanikan diri berbagi demi kemajuan tanah kelahiran. Saat ini menjadi salah satu tenaga pendidik di lingkungan Universitas Trunojoyo Madura demi merangkai asa dan cita untuk ikut serta dalam membangun bangsa

Diskusi

7 respons untuk ‘Adakah Perubahan Pasca Suramadu?

  1. joss pak

    Posted by bim | 10 Januari 2014, 3:34 pm
  2. Ongkos Suramadu juga dipengaruhi Kapal Ferry agar tidak mati pak, adakah solusi untuk itu?

    Posted by Aferrado Capoeira | 10 Januari 2014, 10:57 pm
  3. Berbicara tentang Madura menarik. Terlebih pasca hadirnya Suramadu. Beberapa waktu lalu, 2011, saat konferensi di UGM, ada salah satu dosen fisib yang meneliti tentang perubahan kehidupan sosial dan budaya masyarakat pasca adanya Suramadu. Setelah itu, saya ngga tahu lagi beliau publish dimana.

    Overall, poin terakhir saya sangat setuju. Tapi lagi-lagi, nanti jadinya menyalahkan. Sudah bosan rasanya saya, kita, mungkin kami menyalahkan pemerintah daerah yang sebenarnya memang salah.

    Tulisan ini semakin membuat saya tertarik untuk mengumpulkan ide-ide dari kaum intelektual dan orang-orang berpengaruh di Madura (seperti Pak Fir) tentang “bagaimana seharusnya Madura ini ke depan”. Dan merangkumnya dalam sebuah buku. Menarik!

    Posted by wahyualamsyah | 10 Januari 2014, 11:29 pm
  4. Hai Hin,
    Sangat setuju bahwa pangkal utama proses pengembangan suatu daerah adanya kerendahhatian plus kesiapan mental untuk menerima perubahan. Itu penting sekali, karena tanpa kesiapan mental seperti itu, sangat pasti di masa mendatang pun akan tidak habis dilanda masalah.

    Kedua, birokrasi berlebihan, salah satu penyakit yang anehnya di jaman yang segalanya diharapkan serba mudah dan cepat, tapi sengaja dibuat lambat. Masalah transportasi sebenarnya bisa diatur untuk skala industri, karena jika semua melewati jembatan Suramadu, juga dipastikan akan menimbulkan dampak yang mungkin juga tidak positif. Seperti kemacetan misalnya. Akan sangat lebih baik jika angkutan ferry juga dipikirkan agar tidak terhenti, jadi untuk industri bisa tetap menghidupi armada ferry tersebut, sedangkan Suramadu Gate digunakan untuk mobilisasi humannya.

    Kemudian saya juga melihat potensi industri pariwisata yang harusnya mampu dikembangkan oleh pemerintah setempat. Sederhana saja, kalau kita melihat, dan tentu Ihin ingat daerah Jimbaran yang dulunya juga adalah daerah gersang, kumuh, lambat laun bisa disulap menjadi destinasi unggulan dan mendatangkan pendapatan yang menarik bagi masyarakat sekitar. Tentunya dengan pengelolaan yang baik dan dilakukan improvement berkelanjutan.

    Semoga tantangan tersebut bisa dikelola oleh sumber daya yang ada. Salam

    Posted by Yandi | 13 Januari 2014, 10:42 am
  5. untuk solusi mengenai penyeberangan ferry tunggu tulisan saya berikutnya. insya Allah

    Posted by fsolihin | 13 Januari 2014, 2:51 pm
  6. mohon maaf tulisan saya tidak dimaksudkan untuk menyalahkan berbagai pihak tapi hanya mencoba memotret kehadiran suramadu dari sisi rencana industrialisasi dan juga keberadaan BPWS.

    dengan tulisan ini diharapkan muncul ide-ide lain untuk didiskusikan demi lahirnya solusi terbaik.

    Posted by fsolihin | 13 Januari 2014, 2:56 pm
  7. perspektif lain seperti yang wayan sampaikan akan coba saya sajikan dalam tulisan berikutnya. saya berharap bisa dibaca orang2 pemerintahan dan ditangkap ide utamanya untuk dijadikan solusi pengembangan madura. thanks

    Posted by fsolihin | 13 Januari 2014, 3:00 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: