Refleksi pencitraan buruk Madura pasca Suramadu
Dalam era informasi saat ini sekat informasi sangat transparan, sehingga hampir semua hal dapat diketahui dengan cepat oleh banyak orang dengan sangat mudah menggunakan berbagai media informasi yang beragam. Berangkat dari hal ini banyak sekali pribadi, organisasi, perusahaan dan masyarakat yang mencoba membangun citra positifnya dengan segala kemampuan yang dimiliki, akan tetapi sekali cacat muncul maka kehancuran citra tidak dapat dielakkan karena gelombang informasi negatif itu meluncur seperti bola salju yang semakin lama semakin besar dan menghancurkan segalanya. Seperti pepatah karena nila setitik rusak susu sebelanga.
Sudah banyak contoh perusahaan yang produknya dilanda bola salju penghacuran citra baik itu terbukti maupun tidak terbukti. O (inisial produk dengan iklan, “diputar, dijilat dicelupin”), sebuah produk makanan anak-anak pernah mengalaminya, berita produk O bermelamin langsung membuat angka penjualannya yang terjun bebas karena tidak laku dipasaran. Untuk mengembalikan citra positif tersebut banyak sekali tenaga, biaya, waktu yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Hasilnya untuk jangka waktu yang lama kejayaan produk ini belum tentu dapat kembali seperti sediakala.
Belajar dari contoh ini, disadari atau tidak, berita “hilangnya baut dan lampu suramadu” padahal berita tersebut ternyata tidak terbukti. Dan berita “dicurinya pelapis anti karat kaki jembatan” beberapa waktu sebelumnya yang juga tidak terbukti. merupakan salah satu bagian dari penghancuran citra madura.
Kalau saat ini kita melihat dari dimensi pencitraan madura, maka hampir pasti citra madura sudah cukup hancur dimata masyarakat luas. Bagaimana tidak beberapa teman saat baca berita tersebut langsung memberikan reaksi yang cukup memprihatinkan dengan berguman “tuh khan belum apa-apa sudah hilang!” belum lagi berita ini disiarkan hampir semua koran, stasiun televisi, radio dimana-mana, jadi bahan perbincangan, dan bahan ejekan dibeberapa milis.
Dengan pencitraan yang sudah terlanjur negatif ini, banyak investor yang berfikir berkali-kali untuk berinvestasi di madura, belum lagi pemerintah menunjukkan keberpihakannya bukan pada masyarakat madura dengan indikasi yang sangat kentara yaitu memberlakukan tarif yang kalau dilihat dari berbagai sudut pandang sangat tidak sesuai dengan keinginan menarik investor sebanyak-banyaknya ke madura. Ketidaksiapan pemerintah madura, Pencitraan yang negatif dan tarif suramadu yang tinggi, membuat bayang bayang industrialisasi dimadura semakin menjauh.
Semua orang sadar bahwa saat ini media massa memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pencitraan diri, organisasi, perusahaan, masyarakat. Oleh sebab itu dukungan pencitraan yang baik akan mampu menjadi pendorong yang baik terhadap kemajuan objek yang di citrakan tersebut.
Madura sebagai sebuah objek baru yang menarik untuk diberitakan pasca suramadu akan menjadi semakin berkembang pesat jika semua elemen baik masayarakat, pemerintah bahu membahu bekerja keras turut membangun. Media massa sebagai faktor pendukung harus juga benar-benar memiliki visi yang sama untuk memajukan madura bukannya malah menjadi bagian penghancur disisi pencitraannya.
Masyarakat, Pemerintah dan Media Massa Bali dalam pencitraan merupakan sebuah contoh kasus yang bagus untuk dipelajari. Kita tahu bagaimana masyarakat dan pemerintah bali sangat menjaga segala hal seperti budaya, keramahan, kebersihan dls sehingga benar-benar membuat nyaman wisatwan yang datang ke Bali. Pun demikian media massa bali juga menjaga citra bali tetap baik, wartawan bali sangat jarang memberitakan hal-hal yang negatif mengenai bali, karena mereka sadar pemberitaan negatif yang mereka sajikan akan berdampak sangat besar terhadap keberlangsungan bali sebagai salah satu tempat wisata yang baik didunia.
Tidak ada sama sekali tekanan bagi para wartawan untuk memberitakan sesuatu terkait madura, tapi kebiasaan banyak watawan pasca dibukanya kran kebebasan pers saat ini lebih mengutamakan untuk mendapat berita dari pada melakukan penelitian yang lebih detail terhadap objek berita. akan menyebabkan pencitraan madura semakin terpuruk.
Pertanyaan mengenai ”Akankan masyarakat madura bisa membalikkan pencitraan negatif ini” berada dipundak seluruh elemen masyarakat madura sendiri. sedangkan pemberitaan yang bijaksana dan membangun akan mendorong kembali pencitraan madura pada posisi yang lebih baik. Perlu waktu, biaya, tenaga untuk mengembalikan citra negatif yang telah terlanjur tersebar luas. Dan masyarakat madura pasti bisa.
Mari Belajar bersama Membangun, Mempertahankan dan Menyebarkan Citra Positif Madura
Bernardia Vitri
19 Juni 2009 at 11:10 pm
Jembatan baru ya… aku pengen liat en nyebrang laut 5 menit!!
Agsya
24 Juni 2009 at 1:00 pm
Suatu perubahan kearah lebih baik memang memerlukan totalitas dari semua komponen yang ada. Terlebih lagi mindset terhadap madura yang tidak hanya dari satu sisi ditemukan “kecacatan” perlu mendapat apresiasi yang benar – benar serius untuk masa depan yang lebih baik…
bocahbancar
25 Juni 2009 at 8:04 pm
Sudah seharusny Madura malahmenjadi tambah maju, bukan terjadi banyak masalah sosial yanmg baru……..
Ripai
28 Juni 2009 at 10:16 am
Citra org madura yg begitu ‘negatif’ tentunya tidak serta merta muncul begitu saja
Saya punya beberapa teman M yang dengan begitu bangganya bilang ‘saya ini org madura’ ketika menggertak orang,mengomentari ketidak teraturan sby,melakukan tindakan melanggar aturan dan semacamnya
Memang tidak semuanya,ada juga guru saya org M yg prilakunya sangat layak diteladani.
Membandingkan bali dg madura? Tugas masyarakat madura mengubah citra terlebih dahulu,bukan tugas yang ringan menurut saya
Hasan
29 Juni 2009 at 2:47 pm
Saya orang madura dan terus terang saya juga yang bangga jadi orang madura. ada beberapa alasan diantaranya; Orang madura sejahat apapun dia masih memegang teguh ajaran agama dan budayanya. memang banyak yang perlu dibenahi dari perilaku orang madura; antara lain; sikap angkuh dan selalu mau menang sendiri. mengubah watak orng madura tidak semudah yang dibayangkan harus ada kemauan dan contoh dari stage holder ataupun para ulama yang ada di madura maupun di daerah dimana orang madura itu tinggal karena rata-rata orang madura patuh pada keduanya. selain itu faktor minimnya pendidikan juga yang menyebabkan orang madura berperilaku kurang baik. Kepada semua orang madura: Mari kita berbuat yang bisa membuat orang lain senang pada kita jangan hanya bisa berbuat onar dimana-mana yang pada akhirnya nanti kita tidak ditrima didaerah lain. I love maduranes..!!!
yanto
12 September 2009 at 3:11 pm
banyak hal yang membuat citra madura semakin buruk. Seperti budaya kekerasan dan sering membuat onar di daerah orang lain. Kalau kita compare dari masyarakat madura yang merantau keluar madura, mana yang lebih banyak antara tenaga terdidik dan tenaga tidak terdidik (low education)? Jawabannya tentu lebih banyak tenaga yang tidak terdidik. Masyarakat madura yang terdidik (educated people) dan telah berhasil di daerah perantauan jarang sekali mau kembali ke madura dan membangun masyarakat madura. Sedangkan masyarakat madura yang tidak tidak terdidik mereka menjadi preman, tukang pukul, pedagang di pasar-pasar tradisional, tukang parkir, tukang becak dan kuli bangunan. Hal ini terkesan bahwa masyarakat madura tidak berpendidikan. Oleh karenanya saya mengusulkan, bagi masyarakat madura yang ingin merantau keluar pulau madura bekali diri anda dengan pendidikan, kemampuan dan keahlian. Sehingga kita tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain. Bukankah di madura sudah ada PTN. Seharusnya PTN yang ada di madura lebih memberikan kemudahan bagi masyarakat madura untuk belajar dan menimba ilmu…! Mari kita tunjukkan bahwa masyarakat madura adalah masyarakat yang terdidik..
innnnn
13 September 2009 at 12:52 pm
bagaimanapun itu adalah tindakan oknum,,, n jangan pukul rata itu adalah tindakan dr masyarakat madura…..
ridwan
25 September 2009 at 9:10 pm
bagaimanapun juga sebagai masyarakat madura itu sendiri,,, kita harus membuka diri terhadap dunia luar ….jangan terlalu kolot,,,, byar masyarakat madura menjadi masyarakat yang maju dan tidak kalah dengan kota besar lainnya,,,,,,,,
masyarakat madura cerdas dan pekerja keras tapi karena orang luar hanya asal bicara karena melihat media yang belum tentu kebenarannya beritanya jadi mereka hanya melihat sebagian kecil saja,,, bila ingin tahu sesuatu kita harus mengenal lebih dalam dan bila ingin tahu madura maka datanglah ke pulau madura
Hasan
13 Oktober 2009 at 7:28 pm
@Bang tigor: Di negara demokrasi, Siapapun boleh menyatakan pendapatnya tanpa ada yang boleh menggaggu termasuk bang tigor sendiri. Tapi alangkah baiknya jika bang tigor berpendapat disertakan bukti2 dan melaui tahap observasi ke lapangan. Sudahkah bang tigor melalukanya? Kalo belum, Silahkan berteman dulu sama orang madura secara keseluruhan, jangan cuma satu – dua orang saja karna mereka bukan representasi dari orang madura secara keseluruhan. Kalau bang tigor mengatakan”saya benci orang madura!!!” berarti Bang tigor mengaggap orang madura jahat semua.. yang jelas tidak seperti itu. Seperti halnya suku yang lain, tidak semua baik dan tidak pula semua jahat karna itu sudah jadi hak prerogatif tuhan. Jangan membenci seseorang atau suatu daerah secara berlebihan karna bisa jadi yang anda benci akan anda cintai.. Salam persahabatan dari orang madura
layli
21 Oktober 2009 at 8:43 am
lebih baik lagi bila dimadura tidak terjadi industrialisasi.
kami menentang adanya investor asing tertawa di atas tanah kami, kami cinta madura dan takkan menyerahkannya pada siapa-siapa!!!
globalisasi
kapitalisme
enyah dan kami tak sudi menerimanya!!!
Hasan
7 November 2009 at 2:42 pm
@ Nur: Maaf Cos ru buka situs ini.. Saya kuliah di unijoyo saya termasuk mahasiswanya bapak firdaus(Yang punya Blog ini)…
hasani zubair
28 Desember 2009 at 11:52 pm
“Mari Belajar bersama Membangun, Mempertahankan dan Menyebarkan Citra Positif Madura”.
salutt… kagum akan pemikiran anda mas..
salam kenal..
Einsteinium
21 Januari 2010 at 11:27 pm
Buat org Madura yg beriman emg baiknya sungguh baik bngt.,sy mengakui n prnah mengalami. Tp yg Islamnya cuma di KTP,jahatnya minta ampun. Angkuh. Sombong. Klw manggil orang: “Cong..!!” panggilan yg bkin telinga panas. Semua org ditantang. Sdikit2 clurit. Suka bikin kasus kriminal. Mencuri. Perkosa. Rampok. Apakah ini msih bs disbut dgn : “masih menjunjung tinggi norma agama Islam?? Org2 Dayak smpai marah kyk gt,sbnarx cukup beralasan. Tabiat jelek anda yg bikin anda binasa sndiri,and dimusuhi bnyak org. Rugi sndiri khan?? Tolong donk rubah karakter buruknya. Thank’s.
Albert. S
21 Januari 2010 at 11:52 pm
Di comment2 apapun dan dimanapun.,yg brbicara positif tntang Madura, mgkin hanya org2 Madura sendiri. Yg non Madura, slalu menghujat. Ini tandanya Madura ‘citranya buruk bnget’ di mata org lain. Krna mungkin hanya itulah ‘prestasi’ yg mampu diukir. Smua kmbali pd org Madura sndiri,mampukah merubah kebiasaan bejadnya. Ditmpat sy org2 Madura sk mncuri ayam,kuat brjudi,zina,tawuran,dan bikin onar. Org bilang: suka Petentang-petenteng. Ma’af, ini fakta. Lemah lembut,ramah tamah,baik hati,sopan santun sm org lain gt apa gk bs sich..??
de_jono
26 Januari 2010 at 4:17 pm
bwt kalian2 yg pada gk suka ma org madura ntu smua terserah kalian,tpi klo sudah mengolok2 kyk gtu,jujur q sbgai org madura q jga skit hati,,emgX kalian sdh merasa diri kalian ntu dah baik ap???? org2 sperti kalianlah yg merusak citra org madura…klo gk percya silahkan dtng sndri ke pulau kami,buktikan keramahtamahannya,, klo anggapan kalian benar bahwa relatif org madura kyk gtu,,q brani potong leher,tpi klo salah q potong lher kalian gmn???ingat kalian dah ngejek suku kami….!!!
kami akan menjdi MADU klo qt bs saling mengerti dan menerima,,tpi akan terjdi pertumpahan daRAh klo kalian bersikap kyk gtu,,,
mator sakalangkong…
ripai
26 Januari 2010 at 4:37 pm
pak de jono, memang tidak bisa di generalisir kalu semua orang madura berperilaku seperti yang di stigma negatifkan banyak masyarakat sekarang.
tapi tentunya citra itu memang tidak muncul begitu saja, tidak mungkin suatu pencitraan muncul tanpa ada sebab musabab yang menjadikan citra itu menjadi begitu melekat. tugas orang madura memperbaiki citra tersebut.
komentar pak de jono yang mengancam akan memotong leher jika ternyata orang madura di pulau-nya sendiri ramah juga menurut saya pribadi begitu sangat menyeramkan
, bagaimana orang mau percaya begitu saja, ketika pembuktian saja masih disertai dengan ancaman (potong leher pula
)
seperti yang saya bilang di atas, saya juga memiliki beberapa dosen dan teman2 madura yang memiliki sifat2 yang layak diteladani, atau kita akan berbangga ketika melihat Machfudz MD dengan logat madura yang kental sebagai represantasi orang madura yang membanggakan
, sekali lagi, PR besar bagi orang madura untuk mengubah citra di mata kebanyakan masyarakat, tidak dengan ancaman dan semacamnya.
Pembela_Yg_Benar
2 Februari 2010 at 2:58 pm
Hmm…Madura?? Oh madura…..sebutkan 3 kata tentang orang madura?
Bangkalan ?
Sampang ?
Pamekasan ?
Sumenep ?
–>
Terus terang dari pengalaman saya hanya orang sumenep yang masih memiliki citra lumayan bagus..
Pendidikan moral dan etika sangat amat perlu untuk merubah citra negatif orang madura..dan itu amat sangat berat! Buat para dosen di kampus madura teruslah berjuang…dan para mahasiswanya buktikan stigma negatif itu salah..dengan pembuktian dari anda semua..
Peace!!
DARREN
7 Februari 2010 at 2:42 am
ASSALAMUALAIKUM tretan sedejeh………………ayo kita sma2 mengnkat hrkat n martabat MADURA.Mator skelangkong………………..
DARREN
7 Februari 2010 at 2:46 am
bgi org madura yg da di perantauan,jnganlah engkau lpa ma MADURA Njek bit abit,ayo toreh pleman………
DARREN
7 Februari 2010 at 2:50 am
ow enggi,sblume den kuleh akenalah gelluh,asmah den kauleh DARREN,oreng BA”ENGAS………….SLAM KENAL DEK SEDEJENEH,,,,,,,,,
DARREN
7 Februari 2010 at 2:52 am
BGI org yg blg,bhwa org madura itu prah,slah bngt,,,,,,,,,
hendr4_bawang merah
3 November 2010 at 6:22 pm
bnr p’firdaus nama baek madura dah tercemar. saya pribadi kecewa dengan pemerintahan 4 kabupaten di wilayah madura yang kurang siap menghadapi suramadu. nama baek madura harus qt selamatkan
rocky
25 Agustus 2011 at 12:04 pm
maaf nih, kalo ga ada yang positifnya dari madura, apa yang mau dicitra positifkan?
phrairin
25 Oktober 2011 at 10:36 am
bukan tenttang madura atau non-madura, ini soal individu masing2, klo kita bilang orang jawa baik juga salah, orang arab alim juga salah, toh ada juga yg tabiatnya jelek…